Anwari WMK
Ciganjur School for Philisophy
SEJAUH yang dapat disimak dari perkembangan ilmu pengetahuan hingga pada kurun waktu mutakhir, maka abstraksi berarti pengelompokan secara bersama fakta-fakta yang sejenis. Abstraksi merupakan cara dan upaya yang bersifat fundamental untuk mengorganisasi ilmu pengetahuan. Mengingat realitas hidup --- yang menjadi fokus perhatian ilmu pengetahuan --- senantiasa berada dalam situasi yang sangat kompleks, maka dibutuhkan abstraksi-abstraksi.
Dalam sistem kehidupan yang super kompleks, informasi bersangkut paut dengan banyak aspek dan berjalin kelindan dengan begitu banyak hal. Pada titik ini lalu muncul persoalan:
>>> Bagaimana informasi berkenaan dengan kompleksitas kehidupan dapat disajikan secara saksama?
>>> Apakah seluruh detail informasi tentang kehidupan yang sangat kompleks bisa dikemukakan secara apa adanya?
>>> Apakah tidak menimbulkan kebingungan jika informasi tentang realitas hidup yang super kompleks dikemukakan seluruhnya secara apa adanya?
Ternyata, tidak semua detail informasi dapat disajikan secara sembrono. Pada derajat tertentu, elemen-elemen spesifik informasi berkenaan dengan sistem kehidupan yang sangat kompleks tersembunyikan dari upaya-upaya pembeberan. Ketersembunyian tersebut bukanlah upaya sengaja, tetapi lebih karena ketidakmungkinan informasi yang spesifik itu dibebeberkan secara apa adanya. Artinya, tidak selalu ada jalan dan cara yang memungkinkan semua detail informasi dapat disajikan. Tidak semua detail informasi dapat dipresentasikan. Manusia justru diperhadapkan dengan kebosanan yang memuakkan justru manakala dipaksa mencerna totalitas detail informasi.
Begitu kompleksnya sistem kehidupan, sampai-sampai puspa ragam informasi yang bersangkut paut dengan hayat mahluk hidup dan alam semesta tak seluruhnya dapat diasimilasikan ke dalam kesadaran manusia. Diakui atau tidak, kesadaran manusia memiliki keterbatasan untuk dapat memproses totalitas informasi berskala besar. Manusia lantas membutuhkan abstraksi-abstraksi.
Ditilik berdasarkan perspektif filosofis, lalu muncul dua rumusan. Pertama, secara fundamental manusia memiliki kemampuan terbatas untuk dapat memahami secara keseluruhan kompleksitas sistem kehidupan. Karena alasan ini, maka manusia terus-menerus melakukan penyelidikan dan penelitian baik terhadap alam kosmos maupun terhadap dunia partikel.
Kedua, manusia dituntut mampu menciptakan "peralatan sederhana" untuk dapat memahami dan mengelola sistem kehidupan yang super kompleks. Untuk keperluan ini, manusia dituntut memiliki kapasitas secara teknikal membuat abstraksi-abstraksi dan atau mengembangkan abstraksi-abstraksi.
Hal yang menarik dalam kesadaran dan pemikiran manusia adalah manakala mampu menciptakan abstraksi-abstraksi. Sebab, melalui abstraksi-abstraksi itulah manusia dapat menciptakan formasi dan kategorisasi terhadap detail-detail informasi, sehingga informasi kemudian terkelompokkan berdasarkan besaran-besarannya yang memukau dan menarik perhatian.[]