Wednesday, June 19, 2013

Antara Harapan dan Ketakutan

ANTARA HARAPAN DAN KETAKUTAN

Oleh Anwari WMK

SALAH satu refleksi filosofis atas pernyataan Ali bin Abi Thalib adalah berkenaan dengan "harapan" dan "ketakutan". Refleksi filosofis ini penting dikedepankan untuk keperluan menjawab tantangan kemanusiaan dalam gemuruh deru debu peradaban abad XXI kini.

HARAPAN

Ali bin Abi Thalib pernah berkata, bahwa "Jangan pernah berharap kepada siapa pun kecuali hanya semata berharap kepada Allah."

Pembacaan secara filosofis terhadap pernyataan tersebut membuahkan kesimpulan, bahwa:

* Harapan setiap manusia hanya kepada Allah, bukan kepada manusia, merupakan sumber pokok terciptanya nilai-nilai kemanusiaan yang transendental.

* Otonomi jiwa manusia yang transendental mempersyaratkan adanya kesadaran: hanya kepada Allah saja sejatinya manusia mengantungkan harapan-harapan.

* Manakala harapan setiap manusia benar-benar digantungkan hanya kepada karunia Allah, maka dengan sendirinya tercipta relasi atau hubungan antar-manusia yang secara hakiki menjunjung tinggi kemerdekaan.

* Maka, rumusan tentang kemerdekaan manusia jelas dan gamblang. Niscaya jika dalam jiwa manusia tertanam kesadaran untuk bebas dari ketergantungan yang bersifat determinatif kepada manusia lain. Kedermawanan antar-sesama manusia harus dimengerti sebagai kebaikan yang datang dari Allah, atau bersumber dari Allah.

KKETAKUTAN

Ali bin Abi Thalib berkata: "Jangan pernah takut kepada siapa pun, kecuali takut kepada Allah atas dosa-dosa."

Makna filosofis dari perkataan ini adalah:

* Keberanian dalam mengarungi belantara kehidupan merupakan pijakan dasar bagi setiap manusia untuk dapat meraih kemaslahatan dan memberikan kontribusi bagi terwujudnya kemaslahatan.

* Keberanian manusia dalam menghadapi tantangan kehidupan merupakan sikap yang mutlak positif. Inilah keberanian manusia yang titik tolaknya justru adalah ketakutan secara mutlak kepada Allah.

*Karena terpeliharanya ketakutan kepada Allah, maka keberanian manusia terhadap manusia lain takkan mungkin berubah menjadi brutalitas dan anarkisme.

* Pada satu sisi, setiap manusia harus berani berhadapan dengan manusia lain. Tapi pada lain sisi, keberanian antar-sesama manusia dimengerti memikiki batas-batas oleh adanya ketakutan setiap manusia kepada Allah secara mutlak.

CATATAN PENUTUP

Pada abad XXI kini, hayat umat manusia membutuhkan kesadaran filosofis akan "harapan" dan "ketakutan" sebagaimana dikemukakan di atas. Bilamana hayat manusia kosong dari "harapan" dan "ketakutan" menurut rumusan filosofis di atas, maka eksploitasi manusia atas manusia lain bakal terus bergulir, bahkan menjadi kian tak terbendung.[]