Monday, January 20, 2014

Tuhan, Manusia, dan Peradaban

TUHAN, MANUSIA, DAN PERADABAN

Oleh Anwari WMK

Bilamana perspektif-perspektif ilmu pengetahuan disingkapkan, maka substansi penting peradaban umat manusia terpatri ke dalam dua hal yang saling berkelindan satu sama lain. Dalam tradisi filsafat eksistensial-transenden disebutkan, keberadaan manusia di Planet Bumi ditentukan oleh keabadian eksistensi ruh. Tatkala manusia mati, maka sang ruh tak pernah mati. Sebagai eksistensi, ruh terus berjalan dari sejak alam materi hingga akhirnya kembali kepada Tuhan. Inilah argumen dasar, mengapa ilmu pengetahuan terkukuhkan ke dalam dua perspektif sekaligus, yaitu ilmu pengetahuan dalam perspektif Tuhan dan ilmu pengetahuan dalam perspektif manusia.

Peradaban pada umumnya, senantiasa berpijak di atas landasan dasar ilmu pengetahuan. Dengan fundamen ilmu pengetahuan, peradaban diwujud tegakkan sebagai sumber kemaslahatan. Mereka yang berhimpun dengan sesamanya membangun peradaban adalah sosok-sosok manusia yang berhikmat kepada ilmu pengetahuan. Dan dua perspektif ilmu pengetahuan yang disinggung di atas, turut pula mendasari konstruksi peradaban. Maka, Tuhan-Manusia-Peradaban merupakan satu kesatuan makna. Manakala direduksi, justru mendegradasi peradaban hingga tersuruk ke level kerapuhan.

Epistemologi dan Ontologi

Ilmu pengetahuan dalam perspektif Tuhan adalah epistemologi yang mendahului ontologi. Epistemologi yang dimaksudkan di sini adalah hakikat ilmu pengetahuan, terutama dalam hubungannya dengan kerangka teori, paradigma dan metodologi. Sedangkan ontologi adalah objek-objek yang menjadi pusat kajian, telaah dan analisis-diskursif ilmu pengetahuan. Hubungan antara epistemologi dan ontologi adalah hubungan antara hakikat ilmu pengetahuan dan objek telaah ilmu pengetahuan. Epistemologi Tuhan mendasari adanya kehendak penciptaan beragam ontologi yang tersebar luas di alam semesta.

Ilmu pengetahuan dalam perspektif manusia adalah ontologi yang mendahului epistemologi. Dalam domain kapasitas intelektual manusia, terbentuk kondisionalitas ke arah pendayagunaan puspa ragam ontologi alam semesta sebagai “rahim” bagi lahirnya epistemologi. Observasi, eksperimentasi dan verstehen selalu mengarah kepada ontologi-ontologi, untuk kemudian dirumuskan cara pandang baru, pendekatan baru, dan teori-teori baru. Keberadaan berbagai macam ontologi merupakan sumber ilham bagi kelahiran epistemologi. Terlebih dahulu, misalnya, tercipta ontologi pohon dan tumbuhan sebelum tercipta epistemologi botani.

Dua perspektif ilmu pengetahuan ini sesungguhnya saling berkorelasi secara niscaya, menjadi perspektif holistik. Epistemologi Tuhan melahirkan ontologi alam semesta, dan ontologi alam semesta melahirkan epistemologi manusia. Inilah hubungan aksiomatik “dua epistemologi, satu ontologi”. Dalam konteks ini, epistemologi Tuhan dan epistemologi manusia terlibat perjumpaan di “terminal” ontologi. Dengan perspektif holistik semacam ini, maka peradaban menjadi sumber kecemerlangan tercetusnya dua hal yang sangat penting, yaitu keagungan Tuhan di alam semesta dan kemuliaan hidup manusia di muka Bumi.

Krisis Peradaban

Dinamika sejarah umat manusia terus-menerus diwarnai oleh krisis peradaban. Persis sebagaimana tersimpulkan dalam studi-studi makro-historis, tersuar panorama berkenaan dengan jatuh-bangunya peradaban. Hampir tak ada entitas manusia yang terus-menerus sukses mempertahankan peradaban dalam durasi waktu sangat panjang. Itulah mengapa, sebagian dari manusia masa kini tertegun menyaksikan peradaban-peradaban lampau yang telah runtuh. Bagi manusia masa kini, peradaban-peradaban adiluhung pun sekadar tercatat sebagai memorabilia: Warisan agung masa lampau umat manusia yang gemilang.

Mengacu pada pemikiran filosofis eksistensial-transenden, kegagalan menjadikan dua perspektif ilmu pengetahuan sebagai landasan pijak peradaban merupakan penyebab pokok runtuhnya peradaban-peradaban adiluhung. Relasi segitiga Tuhan-Manusia-Peradaban tereduksi menjadi sekadar relasi instrumental-mekanistik antara manusia dan peradaban. Kalau pun masih ada, narasi Ilahiah bertahan semata sebagai tendesi personal individual dalam totalitas dialektika peradaban. Narasi Ilahiah terseruk ke dalam ceruk-ceruk eskapisme personal individual. Pada titik persoalan ini, narasi Ilahiah sepenuhnya sirna dari peradaban, untuk kemudian digantikan oleh narasi anamilitas dalam format pragmatisme dan hedonisme.

Makna penting narasi Ilahiah dalam peradaban terkait erat dengan hakikat penciptaan alam semesta. Bahwa secara filosofis, penciptaan (oleh Tuhan) berjalin kelindan dengan pemaknaan (oleh manusia). Tuhan menghadirkian ciptaan (ontologi) baru, yang belum pernah ada sebelumnya. Dalam dekapan peradaban, manusia memaknai hakikat ciptaan (ontologi) untuk melahirkan ciptaan (karya) yang lebih baru. Jika keadaaan ini bertahan dalam jangka panjang, maka Tuhan menjadi imanen, dan manusia menjadi transenden.

Mengacu pada hakikat penciptaan alam semesta, maka ontologi tercipta sebagai anugerah Tuhan, dan manusia mensyukuri keberadaan ontologi-ontologi melalui pemaknaan. Hasil dari pemaknaann itulah yang dijadikan inspirasi tegaknya peradaban. Pengingkaran terhadap perspektif holistik inilah yang mengukuhkan peradaban sebagai ajang: Manusia memangsa sesamanya.[]


Anwari WMK, pemburu mahluk-mahluk astral, puisikus, filosof di Sekolah Jubilee dan budayawan di Nirvana Komunika Indonesia, Jakarta.

Tuesday, August 13, 2013

Metafisika

METAFISIKA

Filosof yang memandang penting metafisika melalui karya-karyanya adalah:

[1] Aristoteles (384 - 322 SM)
[2] Shahab al-Din Suhrawardi (1155 - 1191 M)
[3] Ludwig Wittgenstein (1889 - 1951 M)

Kini, pada abad 21, metafisika sangat dibutuhkan demi menemukan jawaban terhadap peliknya kehidupan. Dan karena itu pula, ada keharusan yang niscaya mengkaji ulang karya-karya Aristoteles, Suhrawardi, dan Wittgenstein.

Anwari WMK

Wednesday, June 19, 2013

Antara Harapan dan Ketakutan

ANTARA HARAPAN DAN KETAKUTAN

Oleh Anwari WMK

SALAH satu refleksi filosofis atas pernyataan Ali bin Abi Thalib adalah berkenaan dengan "harapan" dan "ketakutan". Refleksi filosofis ini penting dikedepankan untuk keperluan menjawab tantangan kemanusiaan dalam gemuruh deru debu peradaban abad XXI kini.

HARAPAN

Ali bin Abi Thalib pernah berkata, bahwa "Jangan pernah berharap kepada siapa pun kecuali hanya semata berharap kepada Allah."

Pembacaan secara filosofis terhadap pernyataan tersebut membuahkan kesimpulan, bahwa:

* Harapan setiap manusia hanya kepada Allah, bukan kepada manusia, merupakan sumber pokok terciptanya nilai-nilai kemanusiaan yang transendental.

* Otonomi jiwa manusia yang transendental mempersyaratkan adanya kesadaran: hanya kepada Allah saja sejatinya manusia mengantungkan harapan-harapan.

* Manakala harapan setiap manusia benar-benar digantungkan hanya kepada karunia Allah, maka dengan sendirinya tercipta relasi atau hubungan antar-manusia yang secara hakiki menjunjung tinggi kemerdekaan.

* Maka, rumusan tentang kemerdekaan manusia jelas dan gamblang. Niscaya jika dalam jiwa manusia tertanam kesadaran untuk bebas dari ketergantungan yang bersifat determinatif kepada manusia lain. Kedermawanan antar-sesama manusia harus dimengerti sebagai kebaikan yang datang dari Allah, atau bersumber dari Allah.

KKETAKUTAN

Ali bin Abi Thalib berkata: "Jangan pernah takut kepada siapa pun, kecuali takut kepada Allah atas dosa-dosa."

Makna filosofis dari perkataan ini adalah:

* Keberanian dalam mengarungi belantara kehidupan merupakan pijakan dasar bagi setiap manusia untuk dapat meraih kemaslahatan dan memberikan kontribusi bagi terwujudnya kemaslahatan.

* Keberanian manusia dalam menghadapi tantangan kehidupan merupakan sikap yang mutlak positif. Inilah keberanian manusia yang titik tolaknya justru adalah ketakutan secara mutlak kepada Allah.

*Karena terpeliharanya ketakutan kepada Allah, maka keberanian manusia terhadap manusia lain takkan mungkin berubah menjadi brutalitas dan anarkisme.

* Pada satu sisi, setiap manusia harus berani berhadapan dengan manusia lain. Tapi pada lain sisi, keberanian antar-sesama manusia dimengerti memikiki batas-batas oleh adanya ketakutan setiap manusia kepada Allah secara mutlak.

CATATAN PENUTUP

Pada abad XXI kini, hayat umat manusia membutuhkan kesadaran filosofis akan "harapan" dan "ketakutan" sebagaimana dikemukakan di atas. Bilamana hayat manusia kosong dari "harapan" dan "ketakutan" menurut rumusan filosofis di atas, maka eksploitasi manusia atas manusia lain bakal terus bergulir, bahkan menjadi kian tak terbendung.[]

Tuesday, April 23, 2013

Kebenaran

KEBENARAN

Oleh Anwari WMK

DALAM pengertiannya yang sederhana, "kebenaran" adalah keadaan yang cocok dengan keadaan sesungguhnya. Sesuatu yang terpatri sebagai kebenaran dalam benak dan kesadaran umat manusia adalah kebenaran yang bisa terkonfirmasikan dengan keadaan yang sesungguhnya.

Bagaimana kebenaran terkonstruksi atau tercipta dalam dunia filsafat? Bagaimana dalam dinamika kehidupan abad XXI pola kerja filsafat mampu mendasari terciptanya kebenaran yang hakiki? Mengapa di masa-masa lalu filsafat turut serta mengiring lahirnya kebenaran-kebenaran otoriter?

Pemaparan secara sederhana berikut ini merupakan salah satu jawabannya.

DARI SEJAK ERA ARISTOTELES HINGGA ERA IMMANUEL KANT

>>>>> Kebenaran tidak bersifat otoriter. Sebab, kebenaran merupakan hasil konstruksi subyek individual yang kemudian diapresiasi masyarakat luas untuk kemudian berkedudukan sebagai kebenaran umum.

>>>>> Kebenaran hasil temuan atau elaborasi subyek individual tersebut secara metodologis dinegosiasikan ke tengah kancah kehidupan masyarakat.

>>>>> Kebenaran dikonstruksi berdasarkan konsensus, sementara konsensus dirajut berlandaskan interelasi dan komunikasi antarsubyek.

>>>>> Secara keseluruhan, kebenaran dielaborasi berdasarkan upaya penelisikan secara kolektif dalam dinamika masyarakat.

DARI SEJAK IMMANUEL KANT HINGGA G.W.F HEGEL

>>>>> Terbentuk konstruksi umum kebenaran yang lalu diperlakukan sebagai aksioma dan atau ideologi.

>>>>> Subyek-subyek yang mendaku atau yang merasa paling berkesadaran justru menentukan secara semana-mena terbentuknya paham dan pengertian kebenaran pada diri orang lain, pada masyarakat, pada bangsa, dan bahkan pada dunia.

>>>>>> Dari sini muncul persoalan: Proyek pencerahan dan modernisasi sepenuhnya menutup dialog dan mengamputasi pertukaran diskursus, sehingga konstruksi kebenaran berwatak otoriter.

>>>>> Subyek yang merasa paling berkesadaran lantas mendikte perguliran modernisme dan munculnya "industri kesadaran" seperti pers, radio, televisi dan film.

>>>>> Dinamika keilmuan diwarnai oleh pendekatan Eurosentris yang otoriter.

>>>>> Nihilisme eksistensial lalu mencuat ke permukaan sebagai kekuatan koreksi terhadap konstruksi kebenaran yang berwatak otoriter.

KEMBALINYA KONSENSUS?

Pada abad XXI kini ada kebutuhan yang sangat besar agar kebenaran bermula dari konsensus argumentatif secara bermartabat yang menjunjung tinggi kemanusiaan, keadilan, dan kemaslahatan. Kerangka filosofis yang mendasari konsensus tersebut adalah sebagai berikut:

>>>>> Subyek yang berinteraksi dengan subyek lain tunduk patuh pada cita-cita bersama merawat dan menjunjung tinggi kemerdekaan setiap individu manusia.

>>>>> Hubungan antar-subyek sepenuhnya digaransi oleh berbagai pranata agar hubungan antar-subyek itu benar-benar bersifat rasional, bebas tekanan, tanpa paksaan dan steril dari kekerasan.

>>>>> Mengingat konsensus merupakan sesuatu yang niscaya, maka tindakan rasional memberi ruang kepada setiap individu mengemukakan pendapat-pendapatnya yang bermakna.

>>>>> Terutama berpijak pada aspek sosio-linguistik, maka setiap subyek terus-menerus belajar memahami, merasakan, serta berempati terhadap keberadaan subyek lain dalam realitas hidup kolektif, meski ternyata subyek lain tersebut membawa latar belakang sosio-kultural yang berbeda.

>>>>> Mengingat setiap interaksi berhubungan dengan konsensus, maka niscaya bagi setiap konsensus melahirkan kebenaran yang hakiki.

>>>>> Masing-masing subyek diberi ruang yang setara untuk mengemukakan pandangan-pandangannya yang bermartabat menurut kerangka filosofi dan sistem nilai masing-masing subyek yang tengah berinteraksi.

>>>>> Kebenaran hakiki yang digali dari konsensus itulah yang kemudian ditransformasikan menjadi sistem politik dan sistem ekonomi untuk tegak wujudnya keadilan.

Sungguh, kebutuhan terhadap konsensus kini merupakan conditio sine quonon, kondisi yang tak terelakkan. Bila konsensus sebagai prasyarat terbentuknya kebenaran gagal diwujudkan melalui relasi intersubyektivitas, maka abad XXI bakal terus diwarnai oleh intoleransi dan penindasan kaum minoritas, serta penistaan kelompok-kelompok marginal.[]

Tuesday, December 27, 2011

Abstraksi

Anwari WMK
Ciganjur School for Philisophy

SEJAUH yang dapat disimak dari perkembangan ilmu pengetahuan hingga pada kurun waktu mutakhir, maka abstraksi berarti pengelompokan secara bersama fakta-fakta yang sejenis. Abstraksi merupakan cara dan upaya yang bersifat fundamental untuk mengorganisasi ilmu pengetahuan. Mengingat realitas hidup --- yang menjadi fokus perhatian ilmu pengetahuan --- senantiasa berada dalam situasi yang sangat kompleks, maka dibutuhkan abstraksi-abstraksi.

Dalam sistem kehidupan yang super kompleks, informasi bersangkut paut dengan banyak aspek dan berjalin kelindan dengan begitu banyak hal. Pada titik ini lalu muncul persoalan:

>>> Bagaimana informasi berkenaan dengan kompleksitas kehidupan dapat disajikan secara saksama?

>>> Apakah seluruh detail informasi tentang kehidupan yang sangat kompleks bisa dikemukakan secara apa adanya?

>>> Apakah tidak menimbulkan kebingungan jika informasi tentang realitas hidup yang super kompleks dikemukakan seluruhnya secara apa adanya?

Ternyata, tidak semua detail informasi dapat disajikan secara sembrono. Pada derajat tertentu, elemen-elemen spesifik informasi berkenaan dengan sistem kehidupan yang sangat kompleks tersembunyikan dari upaya-upaya pembeberan. Ketersembunyian tersebut bukanlah upaya sengaja, tetapi lebih karena ketidakmungkinan informasi yang spesifik itu dibebeberkan secara apa adanya. Artinya, tidak selalu ada jalan dan cara yang memungkinkan semua detail informasi dapat disajikan. Tidak semua detail informasi dapat dipresentasikan. Manusia justru diperhadapkan dengan kebosanan yang memuakkan justru manakala dipaksa mencerna totalitas detail informasi.

Begitu kompleksnya sistem kehidupan, sampai-sampai puspa ragam informasi yang bersangkut paut dengan hayat mahluk hidup dan alam semesta tak seluruhnya dapat diasimilasikan ke dalam kesadaran manusia. Diakui atau tidak, kesadaran manusia memiliki keterbatasan untuk dapat memproses totalitas informasi berskala besar. Manusia lantas membutuhkan abstraksi-abstraksi.

Ditilik berdasarkan perspektif filosofis, lalu muncul dua rumusan. Pertama, secara fundamental manusia memiliki kemampuan terbatas untuk dapat memahami secara keseluruhan kompleksitas sistem kehidupan. Karena alasan ini, maka manusia terus-menerus melakukan penyelidikan dan penelitian baik terhadap alam kosmos maupun terhadap dunia partikel.

Kedua, manusia dituntut mampu menciptakan "peralatan sederhana" untuk dapat memahami dan mengelola sistem kehidupan yang super kompleks. Untuk keperluan ini, manusia dituntut memiliki kapasitas secara teknikal membuat abstraksi-abstraksi dan atau mengembangkan abstraksi-abstraksi.

Hal yang menarik dalam kesadaran dan pemikiran manusia adalah manakala mampu menciptakan abstraksi-abstraksi. Sebab, melalui abstraksi-abstraksi itulah manusia dapat menciptakan formasi dan kategorisasi terhadap detail-detail informasi, sehingga informasi kemudian terkelompokkan berdasarkan besaran-besarannya yang memukau dan menarik perhatian.[]

Tuesday, November 1, 2011

Konsepsi

Anwari WMK
Ciganjur School for Philosophy

SEGALA sesuatu yang dimengerti sebagai "konsepsi" sesungguhnya memiliki dua elemen, yaitu elemen dalam dan elemen luar. Elemen dalam dari konsepsi adalah "abstraksi tentang suatu hal yang bertitik tolak dari pemahaman terhadap hal tersebut". Elemen luar dari konsepsi adalah realitas atau tindakan untuk merealisasikan konsepsi. Elemen luar inilah yang oleh GWF Hegel disebut dengan istilah-istilah: transient surface, existence, external accident, opinion, appearance void of essence, untruth, delution, dan sebagainya.

Secara skematik berarti, dalam konsepsi ada realitas, dalam realitas ada abstraksi. Dengan demikian berarti, salah besar jika konsepsi hanya dimengerti secara sempit dan terbatas semata sebagai abstraksi. Dalam konsepsi bersemayam ide-ide, tetapi juga pada konsepsi termaktub tindakan-tindakan yang dapat ditakar besaran dan implikasinya.

Hubungan antara abstraksi dan realitas dapat diibaratkan sebagai hubungan antara roh dan tubuh dalam hayat manusia. Agar tetap eksis sebagai manusia, maka tidak mungkin terjadi pemisahan antara roh dan tubuh. Keduanya -- roh dan tubuh -- hanya bisa dibedakan, tetapi tidak bisa dipisahkan. Pemisahan antara roh dan tubuh justru mencetuskan lahirnya suatu peristiwa yang dimengerti sebagai tragedi, disebut dengan nomenklatur "kematian".

Demikian pula halnya dengan konsepsi. Jika abstraksi telah dipisahkan dari realitas, maka konsepsi sesungguhnya memasuki fase kematiannya. Masing-masing dapat disebut secara independen, tetapi satu sama lain tak dapat dipisahkan.

Indonesia sebagai bangsa membutuhkan konsepsi-konsepsi. Bahkan kompleksitas persoalan yang mewarnai keberadaan Indonesia sebagai sebuah bangsa semakin meniscayakan keharusan akan adanya konsepsi-konsepsi. Indonesia bahkan dilahirkan sebagai sebuah bangsa yang merdeka pada paruh pertama abad XX oleh adanya konsepsi-konsepsi. Ini pula yang dapat menjelaskan, mengapa tokoh-tokoh pendiri bangsa dikenal luas memiliki kejelasan konsepsi-konsepsi.[]